Laman

Senin, 21 Januari 2013


INTERNATIONAL POLITICAL ECONOMY




Why “International Politcal Economy”is Necessary
Non Marxist menuliskan pada hubungan ekonomi inter nasional untuk disebut “perspektif ekonomi politik”dan menentang tentang perbedaan akademi politik dan disiplin huhungan internasional.kritik yang sudah biasa pada perilaku hubungan ekonomi internasional adalah bahwasanya dunia sudah berganti dan teori sudah gagal untuk mempertahankannya.Kususnya,kemajuan pada hubungan internasional tidak hany atas pemikiran kunci konsep dan asumsi yang berlaku.
            Pada tahun 1970,Amerika serikat berada pada kesulitan ekonomi dan menghentikan pengaliran cadangan emas Amerika Serikat,konvertibilitas emas dolar Amerika harus dihentikan dan minyak Arab di hentikan,ditunjukan oleh penstudi British Susan strange,ekonomi internasional dan politik internasional adalah kasus keengganan timbale balik.Tetapi perbedaan tajam antara politik dan ekonomi ini semakin di pertanyakan mulai tahun tersebut.Asumsi Bretton Woods,system yang pernah di bangun para politisi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pertukaran internasional setelah Perang Dunia Kedua.

Criticism of International Economis
Ekonomi politik internasional mendapat kritik disiplin dan pengajuan inovasi.Kelemahan ekonomi internasional terdapat pada obyeknya.Khususnya pada karakter teori politik internasional,yang mengeni perdagangan internasional yaitu keunggulan komparatif (comparative advantage)yang di ajukan oleh David Richardo melalui demonstrasi aritmatika dan menunjukan bahwa walaupun suatu Negara bisa memproduksi barang-barang dengan lebih ekonomis dari pada Negara lain,masih ada kemungkinan untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan kalau Negara yang kalah unggul (the disadvantaged) mempertukarkan barang dimana ia memiliki keunggulan komperatif.Untuk menggambarkan ini Ricardo membangun suatu model hubungan dagang antara dua Negara dengan dua barang.
            Munculnya kritik pada ekonomi internasional sulit ditangkis karna dalam contoh ekonomi di atas jelas bahwa ekonom konvensional terlalu cepat menganggap suatu kondisi sebagai given seperti contohnya ketika di ketahui bahwa inggris memproduksi tekstil sedangkan Portugal tidak,bukan karena dinamika comperative cost   atau karena Inggris mempunyai comperative advantage atas Portugal,tetapi karena Inggris mempunyai daya paksa militer lebih kuat.faktor politik dan strategi militerlah yang menentukan transaksi ekonomi itu.
            Contoh kritik lain adalah tentang dinamika arus capital.ilmuwan ekonomi internasional konvensional yakin bahwa capital selalu berusaha mencari kemungkinan maksimisasi  melalui investasi dan itu dilakukan berdasarkan pertimbangan ekonomis mengenai iklim investasi yang menguntungkan.yang dilupakan adalah bahwa investor atau pmerintahannya sering kali bisa menciptakan kondisi iklim itu.kalau ini benar,maka maksimasi stu bukan hanya persoalan ekonomi,tetapi juga tergantung pada politik domestic dan internasional yang berkaitan dengan kekuasaan untuk menciptakan atau mengubah iklim investasi.pertanyaan-pertanyaan mengenai politik dan hegemoni ini memerlukan analisis yang lebih luas dari pada yang ditemukan dalam ilmu ekonomi internasional.perkembangan intelektual ini menunjukan bahwa ilmu ekonomi internasional mengalami krisis konsep.

Models of International Political Economy
            Variasi model ekonomi politik internasional erat kaitannya dengan pokok altetnatif atau rumus dasar politik,ekonomi liberal.bagaimanapun juga menjadi rumit karena mereka harus mengaitkannya dengan dimensi yang yang tidak ada pada versi domestic tersebut.dimensi yang tidak ada itu adalah hubungan antara proses internasional dan domestic.
             Teori ekonomi politik internasional sependapat dengan beberapa macam hubungan antara politik dan ekonomi.mereka dapat mengindikasikan kemungkinan dari pertanyaan berikut ini:
   1. Bagaimana ekonomi politik internasional mempengaruhi politik internasional dan sebaliknya   
  2. Bagaimana ekonomi politik internasional mempengaruhi politik domestic dan sebaliknya?
        3.  Bagaimana ekonomi politik internasional mempengaruhi ekonomi domestic dan sebaliknya
        4. Bagaimana system politik internasional mempengaruhi politk internasional?

Liberal,Realist,Mercantilist,Interdependence,Dependency Schools.
Asumsi dasar pendekatan liberalisme ekonomi. Secara teori, liberalisme pada dasarnya memuat asumsi dasar nilai-nilai sebagai berikut, yaitu: mengunggulkan paham kebebasan individual, kebutuhan membentuk institusi untuk mengakomodasi beragam kepentingan individual supaya tidak saling berkonflik, individual mesti bebas dari intervensi pemerintah, mendukung opsi pasar kapitalisme sebagai cara terbaik untuk mencapai kesejahteraan.

Liberalisme ekonomi merupkan suatu sistem ekonomi dimana kekayaan produktif terutama dimiliki secara pribadi dan produksi. Tujuan dari kepemilikan pribadi adalah untuk mendapatkan keuntungan dan efisiensi dari penggunaan kekayaan yang produktif.
Nilai liberalisme dalam perekononomian adalah perdagangan bebas, tanpa adanya campur tangan pemerintah. Namun, itu hanyalah teori. Pada kenyataannya tidak ada satu negarapun di dunia yang secara murni dan total menerapkan perdagangan bebas di negaranya tanpa pemerintah.Liberalisme ekonomi menilai bahwa campur tangan pemerintah hanya akan menyebabkan terjadinya distorsi pasar yang pada akhirnya mengakibatkan alokasi sumber daya menjadi tidak efisien. Adanya intervensi pemerintah paling tidak akan merugikan kepentingan slah satu diantara dua pihak yang terlibat dalam aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, keadilan dalam kehidupan ekonomi sangant ditentukan oleh hilangnya campur tangan pemerintah secara total.Lembaga sosial atau identik dengan institusi yang paling diutamakan adalah pasar. Yang terpentinga dalam ekonomi liberal adalah mekanisme pasar. Karena itu, mereka yang memiliki modal dan melibatkan diri dalam kegiatan pasar akan menentukan apa yang akan terjadi dalam prosesnya.
Sebagai pendekatan yang memfokuskan diri pada power, security, dan distributional conflict, asumsi yang dimiliki realisme, yang relevan dengan EPI antara lain, bahwa aktor adalah state yang berdaulat dalam sebuah sistem internasional; di mana ia tercirikan dalam kondisi anarki yang statis, sehingga state melakukan, self-help untuk survival; ia harus memperhatikan keamanan negara sendiri (egoisme negara), akan tetapi tidak boleh melupakan relative gain; state merupakan kesatuan dari aktor-aktor rasional, dan politik domestik, ketidakrasionalan sebagian individu (decision makers) ataupun kesalahan organisasional tidak berpengaruh banyak pada outcomes.
Explanatory variable: Realisme adalah distribusi power antara states, di mana ia mamapu menjelaskan karakteristik sistem dan perilaku individual states. Evidence: Yang dibutuhkan oleh para analis realis adalah operasionalisasi power negara, seperti besar militer, ekonomi, dan ancaman yang mampu dihasilkan. Exemplary problems: Bagi kaum realis ia adalah penjelasan bagaimana memisahkan zero sum dan distributional conflict yang berkembang sebelumnya.
Ada dua isu penting dalam analisa realis:
(1) Bagaimana national power mempengaruhi hubungan antara negara-negara tertentu. Albert Hirschman pada 1945 menulis National Power and the Structure of Foreign Trade yang menjelaskan dua cara di mana trading relations dapat digunakan untuk mengubah kapabilitas/kebijakan negara lain. (a) Negara membatasi ketersediaan sumber daya dan teknologi untuk melemahkan sumber daya musuhnya. (b) Negara dapat mengubah perilaku foreign policy negara lain dengan mengancam akan mengubah aturan permainan transaksi ekonomi mereka. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, se-kredibel apakah ancaman itu bagi negara. Hirschman menjawab, ancaman itu kredible manakala biaya kesempatan relatif bagi perubahan (relative opportunity costs of change) tersebut tidak berimbang (asimetris). Opportunity costs dijadikan variabel, karena ia dapat digunakan untuk operasionalisasi power, sebuah permasalahan yang mengganggu analisa realis.
(2) Bagaimana distribusi power dalam sebuah sistem secara holistik menetapkan international regime. Realis menelurkan teori stabilitas hegemonik, yang menekankan bahwa sebuah sistem ekonomi internasional yang terbuka dapat stabil manakala power terdistribusikan secara hegemoni. Hal ini bisa dilakukan oleh state dengan membentuk (a) aliansi ekonomi, atau dengan membuat (b) rejim dagang yang terbuka.
            Nasionalisme ekonomi atau sering disebut merkantilime, secara esensial merupakan filosofi ekonomi yang percaya bahwa manajemen keonomi seharusnya menjadi bagian dari tujuan negara dalam memenuhi kepentingan nasionalnya dalam kaitan dengan kekayaan, kekuatan, dan gengsi Merkantilismen tidak melihat kerjasama dengan negara-negara lain sebagai hal yang menguntungkan.
Merkantilisme memiliki tujuan utama yaitu harus memaksimalkan kekayaan. Merkantilisme melihat ekonomi sebagai faktor utama untuk mencapai tujuannya tersebut. Pendek kata, Merkantilisme melihat ekonomi sebagai alat utama untuk mencapai kepentingan politik suatu negara. Merkantilisme melihat perekonomian sebagai arena yang sangat konfliktual dengan berbagai tabrakan kepentingan sehingga memilih tidak bekerjasama dalam kondisi demikian. Dan lebih memfokuskan kegiatan perekonomian untuk kepentingan diri sendiri.Kaum Merkantilis juga tidak mengenal istilah interdependensi atau ketergantungan sebagaimana kaum liberalisme, tetapi Merkantilisme mengenal self-determination atau menentukan nasib sendiri. Dalam kamus Merkantilis, tidak ada istilah “kerjasama yang menguntungkan” yang ada adalah “kompetisi yang saling menjatuhkan”. Kaum merkantilis menyatakan bahwa ekonomi harus tunduk pada tujuan peningkatan kekuatan negara sehingga politik mesti diposisikan di atas ekonomi. Yang membedakan Merkantilisme dengna ideologi ekomi lain telretak pada posisi politik yang lebih penting dan negara di atas ekonomi. Ekonomi semata-mata digunakan sebagai alat untuk meningkatkan chances of survivalnya dan mencapai kepentingan nasionalnya. Merkantilisme tidak mengenal keuntungan yang mutualisme, artinya keadaan perekonomian yang tercipta selalu zero-sum dan kompetisi yang konfliktual karena berbagai kepentingan yang bertentangan.
Ruccio dan Simon mengatakan bahwa karya-karya Frank lahir sebagai reaksi terhadap teori-teori Neoklasik Ortodoks dan pandangan Marxis Ortodoks tradisional. Pandangan frank sendiri dipengaruhi oleh teori strukturalis Paul Prebisch dan pandangan Neo-Marxis Paul Baran. Pada hakikatnya konfigurasi teoritis ekonomi pembangunan dalam teori dependensia berada di satu titik garis kontinum antara teori strukturalis ortodog dengan Marxisme.
Teori dependensia sesuai dengan namanya berusahamenjelaskan tentang ketergantungan. Dalam hubungan ketergantungan tersebut ada dua pihak yang terlibat yaitu pihak dominan dan pihak bergantung (dependen). Frank mengelompokkan negara-negara didunia ini atas dua kelompok yaitu negara metroplis maju dan negara-negara satelit yang terbelakang.Hubungan ketergantungan seperti ini disebut Frank sebagai Metropolis-satelite relationsip.
Sementara fokus hubungan ketergantungan dalam model Frank adalah bangsa-bangsa dan hubungan antar bangsa-bangsa, ruang lingkup teorinya adalah sistem kapitalis dunia. Dalam model yang dikembangkan Frank, tiap titik dalam rantai metropolis-satelit, struktur rantai menciptakan kepentingan objektiftertentu, dan yang paling penting adalah kepentingan dalam mengontrol hubungan monopoli pada tiap titikdi rantai hubungan tersebut demi memperoleh manfaat dari extractive power yang ada pada posisi tersebut.
Menurut Frank keterbelakangan dinegara-negara dunia ketiga hanya bisa dipahami dengan mengetahui kondisi awal, khuluk dan perkembangan dari kapitalisme.Menuruf Farank hubungan ketergantungan umumnya, dan hubungan metropis – satelit dalam suatu sistem kapitalisme dunia kususnya, dicirikan oleh sifat monopolistik dan ekstraktif. Metropolis memiliki kontrol monopolistik atas hubungan ekonomi dan perdagangan di negara-negara satelit. Dominasi monopolistik dalam suatu pasar jelas merupakan sebuah posisi kekuasaan. Posisi kekuasaan ini memungkinkan negara-negara metropolis mengeruk surplus ekonomi dari negara-negara satelit. Sebagai dampak dari dominasi metropolis tersebut, negara-negara satelit tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol pertumbuhan ekonomi sendiri, melainkan tetap tergantung pada metropolis. Menurut Frank, hubungan monopolistik dan ekstraktif pada awalnya dibentuk melaui kekuatan senjata, dan setelah itu dilanjutkan melalui struktur ketergantungan dan keterbelakangan.
Sehubungan dengan pola hubungan antara negara –negara metropolis maju dan negara-negara satelit yang terbelakang, Andre Gunder Frank membuat hipotesis: Dalam stuktur hubungan antara negara-negara metropolis maju dengan negara-negara satelit yang terbelakang, pihak metropolis akan berkembang dengan pesat sedangkan pihak satelit akan tetap dalam posisi keterbelakangan,Negara-negara miskin yang sekarang menjadi negara satelit, perekonomiannya dapay berkembang dan mampu mengembangkan industri yang otonom bila tidak terkait dengan metropolis dari kapitalis dunia, atau kaitannya sangat lemah,Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang dan berada dalam situasi yang mirip dengan situasi dalam sistem feodal adalah kawasan-kawasan yang pada masa lalu memiliki kaitan yang kuat dengan metropolis dari sistem kapitalis internasional. Kawasan-Kawasan ini adalah kawasan penghasil ekspor bahan mentah primer yang terlantar akibat adanya hubungan perdagangan internasional.
Bagi Frank proses pembangunan adalah proses pembangunan kapitalis, dan sejarah pembangunan adalah sejarah pembangunan kapitalis. Anggapan remeh terhadap sejarah negara-negarayang terbelakang membuat kita mengasumsikan bahwa sejarah masa lalu dan masa kini dari negara-negara tersebut menyerupai tahap-tahap awal sejarah negara-negara maju.
Adanya hubungan ketergantungan yang sifatnya asimetris ditunjukkan oleh hubungan antara pihak-pihak yang tidak seimbang, disebabkan karena pembangunan-pembangunan daerah satelit tergantung pada pembangunan metropolisHubungan yang timpang dan tidak seimbang ini juga disebabkan karena negara-negara metropolis memiliki kekuasaan atas jalannya pembangunan di daerah-daerah satelit dan bukan sebaliknya. Kunci hubungan ketergantungan dengan demikian adalah Kontrol. Tegasnya metropolis memiliki kekuasaanlebih besar karena dapat megontrol hubungan dengan satelit.Bagi frank hubungan ketergantungan adalah hubungan eksploitatif dimana negara-negara metropolis menghisap negara-negara satelit.Akibatnya metropolis akan semakin maju sedangkan negara-negara satelit akan tetap dalam posisi keterbelakangan tertinggal dan tidak berkembang.

Word-Systems Theory
            Immanuel Wallerstein’s menuliskan tentang teori sistem dunia yang diambil dari dasar tpremis terori dependensia membahasas hubungan antara core dan periphery.tetapi mereka menghubungkannya dengan perkembangan isu-isu kontemporer dan regional untuk menerangakan sejarah interpretasi munculna kapitalisme dan akibat masyarakat pripheral Eropa.
            Wallerstein membedakan antara sistem dunia dan sistem kekuasaan.sistem dunia adalah merupakan sebuah unit dengan satu bagian dan berbagai sistem budaya.kekusaan dunia merupakan sebuah unit yang dijalankan satu struktur politik,dan pusat kekuasaan politiknya secara tidak langsung mempengaruhi sistem ekonomi.

( hasil resume buku Ekonomi Politik Internasional,,, semoga bermanfaat)













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar